Korespondensi Kopi Susu
by Wida Reza Hardiyanti
Minggu,
19 Mei 2013
Kau
marah lagi,Reza? Lalu puaskah kamu setelah marah-marah seperti itu? Apa kamu
tidak merasa bersalah setelah
melakukannya? Lagi-lagi kau menyakiti hati orang-orang yang ada di
sekitarmu. Tidakkah kau kasihan padanya?
Ya,
aku tahu aku memang salah. Aku merasa begitu menyesal dan bersalah. Aku telah
menyakiti hati orang yang telah begitu berjasa padaku. Orang yang telah
melahirkanku ke dunia. Berkat dirinya, aku bisa berada di dunia. Bisa melihat
cahaya kehidupan. Maafkan aku ibu.
Tanyakan
pada hati terdalammu. Mengapa kau melakukan itu. Hanya gara-gara masalah
sepele, kau marah. Tidakkah kau malu pada “dinding yang menjadi saksi bisu
perbuatanmu” atau “pada telinga dan mata di kanan kiri rumahmu” ? Takkah kau sadar
bahwa tindakanmu itu merugikan dirimu sendiri? Tengoklah ke dalam lubuk hatimu
terdalam. Kemudian lihatlah pantulan dirimu pada cermin hatimu. Tidakkah jiwamu
tampak begitu mengerikan?
Aku
juga tak tahu mengapa aku bisa marah untuk suatu alasan yang sepele. Aku
mencoba jujur pada diriku sendiri. Aku khilaf. Aku memang bukan seorang
malaikat yang tak memiliki emosi. Aku malu pada diriku sendiri. Aku malu pada
diriku sendiri, Tuhan, dan tetangga. Aku mencoba berdamai dengan diriku
sendiri. Namun, diriku seperti atom tak stabil yang bisa meledak sewaktu-waktu.
Aku melukai orang yang ada disekitarku karena ledakan emosiku. Lalu, apa yang
harus kulakun?
Kau
harus mengambil alih kendali atas dirimu. Jangan biarkan emosi menguasai
logikamu. Kau harusnya bisa menggunakan rasio dalam setiap keputusan yang akan
ambil. Semua tindakan ada konsekuensinya. Takkan kau ingat, Plato pernah
berkata “marah itu mudah. Tapi marah pada situasi dan saat yang tepat sangatlah
sulit.” Kau belum bisa menerima dirimu sebagai satu kesatuan yang utuh. Kau
hanya mengambil sepotong lingkaran hidupmu, bukan satu lingkaran penuh. Aku
tahu kau pasti membenci dirimu sama halnya kamu membenci sosok ayah dalam
hidupmu. Tak peduli seberapa banyak luka yang telah ia sayatkan pada hatimu, ia
adalah bagian darimu. Darah dalam dirinya mengalir dalam urat nadimu. Takkah
kau tahu, kebencian hanya membakar hatimu hingga menjadi abu? Satu hal yang
perlu kau tahu. Kau tak perlu ragu untuk membuka kembali catatan-catatan
panjang hidupmu. Itu adalah suatu proses panjang evolusi yang harus kau lalui.
Selama ini kau selalu menjadi ulat yang menjijikkan dan merugikan. Kini saatnya
kau berubah menjadi kupu-kupu.
Sudaah
tiba waktunya? Apakah secepat itu?
Tidak.
Kau perlu melewati jalan berliku yang terbentang luas di hadapanmu. Kau juga
harus tahu, hidup tak pernah mudah. Tak ada yang instan,semuanya berproses. Air
dan udara misalnya,mengalami suatu siklus yang panjang. Begitu pula kupu-kupu
yang mengalami metamorfosis. Semuanya butuh waktu yang tak singkat.
Baiklah.
Lalu apa yang terjadi padaku setelah proses evolusi itu selesai?
Kau
akan menemukan ketenangan jiwa. Batinmu akan mencapai titik kulminasi
spiritualitas. Itu adalah impian semua orang. Mungkin suatu ketika kau akan
menjadi seperti yang kau inginkan. Kau akan bisa meraih segalanya. Dan itu
semua dimulai saat ini,detik ini juga. 10 tahun ke depan, sesekali kau akan
menengok ke belakang dan kau akan menemukan bayangan dirimu di masa lalu.
Mungkin ketika melihaat itu, kau akan tersenyum,tertawa, atau menangis
sekalipun. Mungkin kau bisa belajar banyak dari kejadian yang telah kau lalui.
Orang tak mengetahui apa yang akan terjadi pada masa depan, namun ia bisa
belajar dari masa lalu.
Lalu,
akankah ada penyesalan untuk masa lalu yang terlampau menyakitkan?
Pasti
tak ada lagi penyesalan. Karena kau telah menyadari bahwa dirimu telah berada
di masa depan. Semua hanya akan menyisakan kenangan. Kenangan pahit sekalipun
akan menjadi manis bila kau menganggapnya sebagai pelajaran yang berharga,bukan
sebagai suatu kenangan yang ingin kau enyahkan dari bagian hidupmu. Kenangan
manis, kenangan pahit, semuanya akan menyatu seperti layaknya kopi susu.
Keduanya saling melengkapi satu sama lain.Keduanya berbeda, namun ketika
bersatu, akan menjadi hal yang baru.