Love Journey
By Wida Reza Hardiyanti
Awalnya
kehidupanku berjalan normal sebelum serentetan kejadian aneh itu menimpaku. Sejak
saat itu,aku menjadi seorang gadis remaja yang “tidak biasa”. Bisa dibilang, aku
menjadi salah seorang dari beberapa orang-orang terpilih yang dianugerahi bakat
istimewa oleh Tuhan. Ok, emang sih, aku gak kayak anak indigo yang bisa melihat
hantu atau orang yang bisa meramal masa depan orang lain. Aku “hanya” seorang
petualang. Ya, aku bisa melakukan perjalanan keliling dunia dalam waktu
sepersekian detik. Aku cuma perlu membayangkan tempat yang pingin aku tuju.
Terus, tiba-tiba cling! aku sudah sampai di tempat yang aku inginkan. Ketika
aku menutup mataku,perjalanan keliling dunia pun dimulai...
Semuanya
dimulai saat aku pergi liburan bersama orangtuaku ke Bali. Awalnya orangtuaku
yang merencanakan penelitian sejarah ke Bali. Mamaku, yang berprofesi sebagai
dosen sejarah, ingin mengadakan observasi ke Trunyan. Dan Papaku ingin menemani
Mama kesana. Papaku adalah seorang advonturir atau biasa disebut juga
penjelajah. Papa sering pergi ke berbagai tempat untuk jelajah alam. Gak hanya
sekedar advonturir, Papa juga seorang fotografer. Ia mengabadikan
petualangannya dengan lensa kamera kesayangannya. Papa juga menjadi fotografer freelance
untuk majalah National Geographic.
Aku
sering bertanya-tanya kenapa Papa dan Mama bisa saling jatuh cinta. Padahal
diantara mereka berdua terdapat banyak perbedaan. Mama dan Papa ibarat dua
kutub yang saling berlawanan. Mama berpikir secara ilmiah, sedangkan Papa
adalah orang yang nyentrik dan santai. Mama adalah orang yang menyukai kerapian
dan kebersihan, sedangkan Papa sebaliknya. Mama gak suka musik, sedangkan ayah
sangat suka musik. Papa bahkan bisa main gitar dan piano! Papa orangnya
humoris, sedangkan Mama orangnya serius. Lihat kan, mereka punya banyak
perbedaan. Tapi mereka punya satu kesamaan, yaitu mereka saling mencintai satu
sama lain. Mungkin benar kata-kata bijak bahwa cinta itu sulit dipahami.
Semakin keras usaha kita untuk memahami cinta, semakin rumit jadinya. Cinta
memang rahasia-Nya. Lagipula tidak ada seorangpun yang tahu apa alasan mereka
kenapa jatuh cinta pada pasangannya.
°°°°°°
Suatu hari aku
pernah menanyakan alasan Mamaku melakukan observasi ke Trunyan. “Kenapa harus
Trunyan sih ,Ma? Tempat itu kan katanya mistis, Ma. Apa Mama gak takut?”
“Kenapa harus
takut? Mama kan peneliti,Mel. Mama lebih percaya sama hal-hal yang logis dan
realistis daripada sekedar mitos yang bersifat mistis. Lagipula observasi ini
sangat penting buat materi pengajaran Mama. Banyak mahasiswa Mama di kelas yang
tanya sama Mama tentang Trunyan. Jadi Mama harus ngadain observasi langsung ke
Trunyan. “
“Ok, deh.
Terserah apa kata Mama.” kataku merajuk.
“Oh ya, Mel,
Papa kayaknya bakal nemenin observasi Mama deh. Lebih baik kamu ikut Mama ke
Bali daripada sendirian di rumah. ”kata Mama membujukku.
“Ya ampun, Ma.
Masa Melina harus ikut Mama ke Bali sih? Aku gak mau ikut Mama pergi ke
Trunyan. Lagian kan masih ada Bik Surti.” Kataku mencoba membantah perkataan
Mama.
“Besok Bik
Surti pulang kampung. Anaknya sakit keras. Mungkin dua minggu lagi baru pulang.
Lagian kan sebentar lagi kamu libur sekolah. Apa salahnya kamu ikut kami ke
Bali sekalian wisata?”
“Iya sih, Ma. Ntar
deh, aku pikir-pikir lagi.”kataku sambil menuju ke kamar.
°°°°°°
Di
kamar aku masih mempertimbangkan keputusanku. Pergi atau gak ya?kalau aku
pergi ke Bali bareng Papa Mama, mungkin aku bisa sekalian wisata. Lagipula pas
mereka ke Trunyan, aku kan bisa pergi ke pantai aja. Suara hatiku berkata
padaku bahwa sebaiknya aku pergi. Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik.
Lagipula aku gak mau tinggal sendirian di rumah. “Aku musti buru-buru bilang
ke Mama nih.”gumamku pelan.
Kulangkahkan
kaki menuju kamar Mama. Kuketuk pintu kamar perlahan. Tak lama Mama keluar dan
membukakan pintu.
“Ma,
aku mau ikut Mama ke Bali aja. Daripada di rumah sendiri.”kataku memulai
pembicaraan.
“Bagus
dong kalau gitu. Jadi kita bisa secepatnya berkemas. Besok Mama bantuin kamu
berkemas.”
“Makasih,Ma.”
“Sama-sama,Dear.”
°°°°°°
Esok menjelang.
Aku masih tidur ketika kudengar suara ketukan di pintu.
“Aku masih
ngantuk banget. Siapa sih yang ngetuk pintu? Gak tau orang lagi enak-enak tidur
apa? Lagian kan ini hari libur. Buat apa bangun pagi-pagi?” gumamku.
Aku
hanya diam dan meneruskan tidurku. Bukannya berhenti mengetuk, tetapi suara
ketukannya malah semakin keras. Akhirnya aku bangkit dari tempat tidur. Kubuka
pintu kamar. Ternyata Mama yang mengetuk pintu.
“Ngapain
pagi-pagi ngetuk pintu kamarku, Ma? Ini kan hari libur,”kataku sambil menguap
lebar-lebar.
“Melina, jadi
cewek yang sopan dong. Kalau menguap ya harus ditutup pake tangan. kamu lupa
ya? Hari ini kita kan mau ke Bali. Ayo kita cepet-cepet berkemas. Kalau gak,
kita bisa ketinggalan pesawat.”
“Ok,
Ma.”sahutku singkat.
Usai
berkemas, aku segera mandi dan sarapan pagi. Di meja makan, Papa Mama telah
selesai sarapan. Ternyata Mama dan Papa sudah menungguku dari tadi. Aku
bergegas melahap roti selai kacang dan meneguk segelas susu di atas meja.
°°°°°°
Kami menuju
bandara Soekarno Hatta. Kulirik jam tangan mungil di tanganku.
Udah jam 09.00.
Wah, gawat nih. Pesawat take off jam 09.15. Cuma ada waktu 15 menit. Moga-moga
jalanan gak macet. Kalau gak, aku dan Mama Papa bakal ketinggalan pesawat,pikirku kalut.
Seolah
tahu apa yang ada dalam pikiranku, Pak sopir mengemudikan mobil lebih cepat.
Hingga 80 km/jam. Beruntung, Pak sopir bisa menghindari kecepatan dengan
mengambil jalan alternatif. Tak lama kami telah tiba di bandara. Aku berterima
kasih dan bergegas turun. Papa Mama mengikutiku dari belakang.
Kami memasuki pintu masuk penerbangan. Melewati serangkaian
pemeriksaan standar bandara dan segera naik ke pesawat. Aku mencari kursi yang
sesuai dengan nomor pada tiket pesawatku. Tertera nomor 18 disana. Usai
mencari-cari, akhirnya ku menemukannya. Kursi sebelahku diduduki oleh seorang
eksekutif muda. Aku bisa melihat dari jas yang dipakainya. Sementara itu,Mama
Papa duduk berdampingan. Mereka duduk di kursi nomor 19. Mereka persis berada
di belakangku.
Pesawat
take off 3 menit kemudian. Aku memejamkan mata, berusaha untuk tidur.
°°°°°°
Usai
menempuh perjalanan selama kurang lebih
2 jam, kami mendarat di bandara Ngurah Rai. Kami segera turun dari pesawat dan
menunggu jemputan. Di tempat tunggu kedatangan, kulihat sosok Om Henry.
Om
Henry adalah adik kandung ibuku. Ia seorang seniman. Salah seorang pelukis dan
pematung terkenal di Bali. Karya-karyanya banyak diburu oleh para kolektor seni.
Ia mendapat julukan “The masterpiece Henry”. Om Henry baru berusia 27
tahun dan masih lajang. Ia tinggal di kompleks perumahan terkenal, Ubud.
°°°°°°
“Melina!,”
teriak om Henry lantang.
“Om Henry!,”sahutku.
Aku segera menghampirinya dan kami berdua berpelukan.
“Wah, Mel. Kamu
tambah cantik aja,”kata Om Henry memujiku.
“Iya, dong om.
Melina gitu lho.”kataku sambil tersenyum.
Tak
lama kemudian ibu dan ayah datang menghampiri kami. Mereka saling melepas rindu
dan berbincang-bincang sebentar. Om Henry membimbing kami menuju tempat parkir
mobil. Om Henry segera memasukkan barang-barang kami ke bagasi sedan BMW-nya.
Mobil pun melaju kencang.
. °°°°°°
Kami
tiba di rumah Om Henry 10 menit kemudian. Kulirik jam tanganku. Jam 11.10.
Pantas, sinar matahari terik sekali. Aku segera mengambil koper di bagasi dan
bergegas masuk ke dalam rumah.
“Mel, kamarmu
di lantai dua ya. Yang kamar tamu di lantai satu biar dipake Mamamu.”Om Henry
teriak padaku..
“Iya, deh,
Om.”kataku dengan cemberut. Waduh, berarti aku harus menjinjing koper sampai
lantai dua nih. Mana tangganya banyak banget lagi! Gimana ini?
Dengan
berat hati aku menjinjing koperku ke lantai dua. Ternyata koperku berat juga.
Padahal aku gak bawa banyak barang lho. Aku cuma bawa 5 pasang pakaian dan alat
mandi. Belum sampai lima anak tangga,napasku tersengal-sengal, tanganku pegal,
dan kakiku gemetaran. Namun Om Henry maupun Mama Papa cuek aja. Mereka tidak
menyadari kalau aku butuh bantuan. Mereka malah lagi ngobrol di ruang tamu.
Sungguh kejam!
Aku
menyandarkan koperku dan memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil
duduk-duduk di tangga. Untunglah Bik Inem menghampiriku dan menawarkan bantuan
untuk membawa koperku ke atas. Tentu saja aku buru-buru mengiyakan. Aku
mengekor di belakang Bik Inem dan memperhatikannya membawa koperku. Bik Inem
dengan sigap mengangkatnya melewati 30 anak tangga lagi. Bik Inem tidak
terlihat kelelahan maupun genetaran. Napasnya juga tidak tersengal-sengal
sepertiku tadi. Padahal Bik Inem sudah berusia 45 tahun sementara aku masih 17
tahun! Sampai di anak tangga terakhir, aku mengucapkan terimakasih atas
bantuannya. Bik Inem tersenyum simpul dan berkata bahwa itu memang sudah
tugasnya. Ia bergegas turun ke bawah.
Kubuka pintu
kamar kemudian membaringkan diri di kasur. Tanpa sadar, aku terlelap. Ternyata
perjalanan jauh dari Jakarta-Bali emang bener-bener bikin capek..
°°°°°°
Aku
gak tahu sudah berapa jam aku terlelap. Aku terbangun saat mendengar suara petasan
dari luar. Sepertinya sih,suara petasan itu berasal dari halaman. Ternyata
benar dugaanku. Memang ada yang menyulut petasan. Tak lama berselang,hidungku
mencium bau harum daging sapi panggang kesukaanku. Rupanya Om Henry mengadakan
pesta kembang api dan pesta BBQ. Wah, asyik juga nih!
Kusibakkan
tirai jendela. Kupandangi langit di luar sana. Langit cerah di siang hari telah
berganti menjadi hitam temaram. Sudah malam rupanya. Mungkin aku tidur lebih
dari 8 jam!
Aku
sebenarnya ingin bergegas turun. Tapi saat melintas di depan cermin besar dan
melihat pantulan wajahku, aku kaget setengah mati. Penampilanku sungguh
mengerikan. Rambut acak-acakkan, mata merah, plus wajah kusut.
“Duh,
penampilanku bener-bener acak-acakan. Aku kayak zombie habis bangun dari
kuburan nih.”gumamku pada diri sendiri.
Aku memutuskan
untuk “berbenah diri” terlebih dulu. Saat mau masuk kamar mandi, aku baru sadar
kalau aku belum beresin koper. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk beresin besok
pagi. Besok aja deh. Aku gak mau ketinggalan pesta BBQ. Aku cuma mengambil
baju ganti dan sabun pencuci muka dari dalam koperku. Setelah cuci muka dan
ganti baju, aku segera turun ke bawah. Tak lupa kukunci pintu kamarku.
°°°°°°
Pesta
kembang api dan BBQ itu diadakan di halaman belakang Rumah Om Henry. Rumah Om
Henry cukup luas. Kurang lebih sekitar 800 m². Halaman rumah Om Henry tertata
dengan indah. Ada taman bunga, gazebo, dan kolam renangnya.
Om
Henry memang menyewa tukang kebun untuk menata halaman belakang rumahnya. Katanya
sih, ia butuh pemandangan indah dan suasana tenang untuk melukis. Om Henry
sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk melukis. Biasanya ia duduk di
gazebo, mengambil kanvas, dan mulai
melukis. Ketika ia mulai lelah, ia akan keliling taman dan memandang bunga
beraneka warna. Ada bunga forget-me not,lili,krisan, cepaka,
melati, seruni, anggrek, krisan, dan mawar.
Aku
sempat tertegun menyaksikan pemandangan di halaman belakang yang ditumbuhi
pohon cemara dihiasi dengan lampu warna-warni seperti pohon natal. Aku juga menghirup
aroma sedap dan harum panggangan. Di langit, bintang berkerlap-kerlip seperti
mengedip padaku. Tak hanya itu, kembang api berwarna-warni menambah keindahan
langit di atas sana. Kupandangi sekeliling taman. Ibu sedang sibuk memanggang
daging, ayah sedang main gitar, dan Om Henry menyulut petasan.
“Mel, sini
bantuin ibu manggang daging.”
“Ya”jawabku
lirih.
Setelah
memanggang daging, aku menghampiri Om Henry .
“Om, Melina
boleh nyalain petasannya gak?”
“Boleh aja.
Sini aku ajarin caranya.”
Usai
pesta kembang api, kemudian saatnya menikmati BBQ sambil mendengarkan lagu dan
petikan gitar ayah. Kami bertiga, aku, ibu, dan Om Henry nyanyi, sedangkan ayah
main gitar mengiringi lagu yang kami nyanyikan.
“Yah, boleh nge-request
lagu gak?”
“Boleh. Mau
lagu apa?”
“Lagu Firework
yang dinyanyiin sama Katty Pery. Ayah tau kan?”
“Tau dong. Itu
kan lagu favoritmu. Kamu sering nyanyiin lagu itu di rumah.”
Malam udah
semakin larut. Dingin menyergap, menggiggit tulang. Mata sudah hampir terpejam
dan kantuk menyergap.
“Bu, aku udah
ngantuk. Aku tidur dulu ya.”
“Ya”
°°°°°°
Aku
masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa-gesa. Aku menaiki anak tangga
dua-dua sekaligus. Tak lama aku dah sampai di depan pintu kamar. Kubuka pintu
kamar, kemudian masuk ke dalam. Sesaat tatapanku tertuju pada seekor binatang
hitam diatas tempat tidur. Setelah aku amati cukup lama, aku baru sadar kalau
itu hanya seekor kucing hitam. Namun anehnya, bagaimana kucing itu bisa masuk
sampai kesini? Bukannya jendela dan pintunya kukunci?
Kuamati
kucing itu dengan seksama. Seakan sadar kalau sedang diamati olehku, mata
kucing itu menatapku tajam. Kemudian,
untuk sesaat, aku melihat kucing itu menyeringai padaku. Ketika menyeringai,
aku melihat kedua taring atasnya berlumuran darah. Aku terpaku sesaat. Aku
mengucek-ucek mata untuk memastikan penglihatanku. Mungkin aku salah melihat.
Atau mungkin aku sekedar berhalusinasi. Sebenarnya aku mau mengusir kucing itu,
tapi karena aku sudah ngantuk berat, aku malas melakukannya. Akhirnya aku membiarkan
saja kucing itu. Aku merebahkan diri diatas tempat tidur. Anehnya kucing itu
tak bergerak sama sekali. Seperti patung.
“Ah, biarin
aja. Mungkin aku kecapekan jadinya pikiranku gak karuan,”kataku bergumam pada diri sendiri.
Aku
sempat mengamati kucing itu sesaat, sebelum akhitnya jatuh tertidur. Saat itu
aku tak sadar bahwa mungkin itu suatu pertanda. Pertanda bahwa mungkin akan terjadi kejadian aneh yang
akan menimpaku selanjutnya.
°°°°°°
Sinar
matahari menerobos masuk lewat jendela. Tirai jendela telah disibakkan dan
jendelanya telah dibuka lebar-lebar. Aku mengerjap-ngerjapkan mata karena
cahaya matahari yang menyilaukan membuat mataku sakit. Aku melihat sekeliling.
Ternyata kucing itu sudah gak ada.
Aku
segera masuk ke kamar mandi. Membersihkan badan. Setelah mandi, badanku segar
kembali. Aku melirik jam di atas meja untuk memastikan jam berapa saat ini.
Ternyata jam 07.30. Aku merasa perutku keroncongan. Aku segera turun ke bawah.
Menghampiri ruang makan.
Di
ruang makan telah terhidang roti selai kacang dan segelas susu hangat. Duduk
berjajar mengelilingi meja makan, ayah, ibu, dan Om Henry. Aku segera duduk dan
mengucapkan selamat pagi.
“Gimana
tidurnya,nyenyak Mel?”tanya Om Hnery.
“Nyenyak
Om”jawabku singkat.
“Oh ya,Om.
Melina mau tanya.”kataku sambil mengambil roti selai kacang diatas meja.
“Tanya apa
Mel?”
“Om pelihara
kucing hitam gak?”kataku sambil mengunyah makananku.
“Gak lah, Mel.
Buat apa pelihara kucing segala. Emangnya kenapa Mel?”tanya Om Henry penasaran.
“Hm,gak apa-apa
kok Om.”kataku bebohong.
“Ayolah, Mel.
Kamu gak usah bohong. Kamu gak pinter bohong. Ada apa sebenarnya Mel?”
“Semalem aku
ngliat kucing hitam di kamarku,Om. Kucing itu aneh banget. Kucing itu keliatan serem dan misterius.”
“Oh ya? Mungkin
itu cuma halusinasimu,Mel. Karena kamu kecapekan,makanya kamu jadi berpikiran
yang aneh-aneh.”Om Henry berusaha menenangkanku.
“Iya, kali Om.
Awalnya Melina juga berpikir begitu. Tapi, om..”
“Tapi
kenapa,Mel?”tanya Om Henry lagi.
“Tapi, setelah
aku amati, kucing itu kelihatan nyata. Kalo cuma halusinasi, berarti kucing
itu bayangan dong,Om. Kucing itu
harusnya ilang setelah aku memastikan penglihatanku. Tapi, setelah aku
memastikan penglihatanku, kucing itu masih ada. Kucing itu bener-bener ada
disana.”jawabku panjang lebar.
“Ya udahlah.
Toh, kucing itu udah gak ada kan? Gak bakal ada apa-apa kok”jawab Om Henry
santai.
Aku
segera menghabiskan makananku dan meneguk segelas susu. Aku membereskan pring
dan membawanya ke bak cucian piring. Dalam hati,aku masih penasaran atas
kejadian semalam. Aku juga memikirkan jawaban Om Henry. aku merenung dan
mencoba menghubungkan kronologi kejadian semalam. Tapi karena tak kunjung
mendapat jawabannya, akhirnya aku terpaksa sependapat dengan Om Henry.
Tapi,
aku baru menyadari setelahnya,setelah berbagai kejadian aneh menimpaku. Bahwa pendapat
Om Henry salah...
°°°°°°
Jam 08.00, Om
Henry mengajak kami bertiga ke pantai. Tentu saja aku langsung senang.
Aku
segera berkemas. Menyiapkan perlengkapan dan peralatan ke pantai. Sun block dengan
SPF 15, baju renang, topi pantai,dll. Setelah siap, aku memasukkan
barang-barang ke bagasi mobil. Mobil melaju. Tak sampai sejam, kami tiba di
pantai Kuta.
Awalnya
aku mengira pantai masih lengang dan sepi. Tetapi dugaanku salah besar.
Ternyata pantai telah dipenuhi wisatawan. Aku tak mau membuang-buang waktu. Aku
bergegas mengambil barang-barangku di bagasi dan menjinjingnya. Aku masuk ke
toilet wanita yang tersedia. Setelah berganti dengan pakaian renang one
piece warna krem yang sangat cocok dengan warna kulitku, aku berbaring
telungkup di kursi pantai.
Mama
berbaring telungkup di sampingku. Mama membalurkan sunblock ke kaki dan
tanganku. Setelah itu,gantian aku yang membantu Mama membalurkan sunblock ke
punggungnya. Ternyata ayah dan Om Henry telah memakai celana renang. Karena
ombaknya sedang bagus, mereka berdua berselancar.
Setengah
jam berbaring, aku merasa bosan. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Pasir
pantai seperti menggelitiku kakiku yang telanjang. Aku memang sengaja tidak
memakai alas kaki. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku.
“Melina!”seseorang
memanggil namaku.
Aku
mencari-cari asal suara tersebut. Ternyata seorang cowok yang sebaya denganku.
Ia berwajah tampan. Rambutnya pirang dan hidungnya mancung. Tubuhnya tinggi dan
atletis. Kelihatannya ia orang indo. Karena iris matanya berwarna hitam, bukan
biru atau coklat.
“Who are you?
Should I know you?”tanyaku bingung.
“My name is
Peter Müeller. No, maybe you don’t know me.”
“So, how could you know my name,Peter?”
“I always dream
of you.”
“Wow,you must
be kidding. ”
“No,I’m not.”
“Ok,I don’t
care about it. Well, Peter, where are you come from?”
“I come from
Germany.”
“Guten
morgen,Peter.”kataku padanya.
“Guten
morgen,Melinda.”sahutnya.
“Wie geht es
Ihnen?”tanyaku.
“Es geht mir
gut. Und Ihnen?”jawabnya.
“Ich bin
prima,”jawabku singkat.
“Wow,du
sprichst Deutsch.”katanya dengan takjub.
“Ja. Ich lerne
Deutsch in meine Schule.”jawabku singkat.
“Hast du
phonenummer?”tanyanya.
“Ja.
Naturlich.”jawabku.
“Geben
Sie,bitte!”pintanya.
“Ja. Null-acht-fünf-drei-sieben-neun-vier-eins-drei-zwei-fünf-sech.”
“Danke
schön,Melina.”katanya sambil tersenyum. Saat tersenyum, kulihat kedua lesung
pipi menghiasi ujung bibirnya. Senyumnya sungguh menawan. Entah kenapa hatiku
berdebar-debar. Mungkin ini yang dinamakan love at the first sight.
Kemudian,lamat-lamat
terdengar suara Mama memanggil namaku.
“Ja.
Entschuldigen Sie, bitte. Ich muss jetzt gehen. Auf wiedersehen.”kataku
mengucap salam perpisahan.
“Auf
wiedersehen.”katanya singkat.
“I’ll texted
you. I hope I’ll meet you again someday.”ujarnya lagi.
“Yeah. Mee too.
”kataku sambil melangkah menjauh. Ia melambaikan tangan padaku. Aku hanya
tersenyum simpul.
°°°°°°
Aku bergegas menghampiri Mamaku.
“Mel,kamu
buruan ganti. Kita harus bergegas. Ibu tunggu kamu di mobil.”
Aku segera
ganti baju di toilet. Aku menuju ke parkiran dan segera masuk ke mobil. Mobil
pun melaju.
“Om, kita mau
kemana sih?”
“Ke tempat I
Made.”jawab Om Henry singkat.
“Siapa itu I
Made?”
“Ia salah
seorang dukun spiritual terkenal di Trunyan.”
Tak lama kami
sampai di Trunyan. Sampai di pintu gapura masuk Trunyan, Om memarkirkan mobil.
“Ok,ketika kita
masuk ke daerah Trunyan,kita dilarang membawa benda-benda elektronik maupun
mengambil barang-barang dari Trunyan untuk dibawa pulang. Kalau ada yang
melanggar,kita semua akan kena akibatnya.”kata Om Henry memberi peringatan.
°°°°°°
Kami
turun dari mobil dan berjalan kaki. Kata Om Henry,jarak dari pintu masuk menuju
desa trunyan tidak terlalu jauh. Saat memasuki daerah itu, aku merasakan
atmosfir supranatural yang kental. Sesaat bulu kudukku merinding dan kakiku
urung untuk melangkah. Namun, aku menguatkan diri.
“Ini gak
bakalan lama. Toh,nanti juga gak bakal terjadi apa-apa.”gumamku pelan.
Setelah
5 menit berjalan, akhirnya kita sampai di rumah I Made. Om Henry mengetuk pintu
dan tak lama keluarlah sesosok lelaki paruh baya dari dalam rumah. Ia sangat
jauh dari kesan angker. Justru ia sangat ramah. Kami memperkenalkan diri satu
persatu. Saat tiba giliranku memperkenalkan diri, ia menyahut lebih dulu.
“Namamu Melina
kan? Aku sudah tahu. Melina, kamu memiliki bakat istimewa yang belum kamu sadari.”
Tanpa
sempat bertanya, ia telah berjalan mendahului dan membimbing kami memasuki
kawasan desa Trunyan. Ternyata Trunyan adalah suatu kompleks pemakaman yang
unik. Bila orang mati di Bali umumnya dibakar jenazahnya dan dijadikan abu,
maka di Trunyan beda lagi. Orang Trunyan yang meninggal tidak melaksanakan
upacara Ngaben, tetapi jenzahnya diletakkan begitu saja. Hampir seperti
pemakaman di Tanah Toraja. Ibuku kemudian mengajukan beberapa pertanyaan dn
mencatatnya sebagai bahan penelitian sejarah.
Aku
melihat mayat-mayat yang diletakkan begitu saja di dekat pohon. Namun anehnya
aku tidak mencium bau busuk. Seolah-olah bisa membaca pikiranku, I Made
menjawab, “Hal itu disebabkan karena pohon ini mampu menyerap bau busuk. Banyak
peneliti yang datang kemari untuk meneliti zat dalam pohon ini. Namun peraturan
adat kami melarang orang asing membawa sampel pohon ini keluar
dari daerah Trunyan, mereka tak bisa menelitinya. Sehingga misteri mengenai
pohon ini belum terpecahkan.”
Aku mengamati pohon itu. Tinggi besar dan
rimbun seperti pohon beringin.
“Mel, penelitian kita udah selesai. Yuk, kita
pulang.”kata ibu membuyarkan lamunanku.
“Ok,bu.”
Tiba-tiba I Made menghampiriku.
“Melina, coba pejamkan matamu dan bayangkan
tempat yang ingin kau kunjungi. Suatu keajaiban akan terjadi. Namun,keajaiban
itu akan terjadi setelah kamu bertemu lagi dengannya. Kau dan dia memiliki
bakat yang sama. Kemampuan kalian akan mempertemukan kalian kembali. Kalian
berdua adalah sang terpilh.”kata I Made sambil tersenyum.
Aku mencoba bertanya apa maksudnya, tapi ia
hanya diam saja.
°°°°°°
Dalam perjalanan pulang, aku masih memikirkan
perkataan I Made. Kenapa ya, aku baru 3 hari Bali, tapi banyak kejadian aneh
yang terjadi?
Sesampai di rumah Om
Henry, aku bergegas masuk kamar. Aku mencoba membuktikan perkataan I Made. Aku memejamkan
mata dan membayangkan tempat yang sangat ingin kukunjungi, taman bunga. Aku
memabayangkan bunga berwarna-warni, ratusan jenis, dengan harumnya yang
semerbak dan dipennuhi kupu-kupu yang beterbangan kesana-kemari. Namun anehnya,
tak terjadi apa-apa. Aku sedikit kecewa. Mungkin I Made salah mengira. Tapi,
apa maksudnya bahwa kemampuanku akan muncul ketika aku bertemu lagi dengan dia?
Siapakah dia itu?
°°°°°°
Esoknya,aku
memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar kompleks Ubud. Aku ingin menenangkan
diri. Banyak kejadian aneh yang menimpaku belakangan ini. Aku berjalan sambil
melamun. Tanpa sadar, aku telah sampai di taman bunga Ubud.
Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di
kursi taman. Aku melihat sesosok laki-laki menghampiriku. Ia berjalan dari
kejauhan dan berjalan ke arahku. Aku memicingkan mata mencoba untuk memperjelas
penglihatanku. Setelah dekat, sosok itu menjadi jelas.
“Hello,Peter.”kataku kaget.
“Hi,Melina.”jawabnya.
Dalam hati aku bertanya-tanya, bagaimana ia
sampai disini.
“I’ve told you,right? We’ll meet
again.”katanya.
“Yeah. It’s true.”jawabku gugup.
“I love you,Melina.”katanya tiba-tiba.
Aku memandang kedua bola matanya. Aku melihat
ketulusan dan rasa cinta yang dalam disana.
“But, we just meet two times. Love always
need time.”jawabku
“yes. But, I also same with you. I can see my
future with you. I love you. And I know that you love me too.”jawabnya.
“So...you already know my feeling. ”kataku
tercekat.
“Yes. Just close your eyes and think
someplace. Everyplace that you want to visit.”sahutnya.
Aku menutup mataku. Aku membayangkan tempat
yang aku bayangkan sebelumnya. Ketika aku membuka mata, aku benar-benar ada disana.
Bersama Peter disampingku.
“Let’s start our journey.”kata Peter.
“Our love journey around the world.”kataku.
“I love you too,Peter.”kataku.
Peter hanya tersenyum. Ini adalah awal
perjalanan cinta kita.
END