Pages

About

Wida Reza Hardiyanti. Powered by Blogger.

Blogroll

Blogger templates

Blogger news

Sunday, 19 May 2013

Cerpen


Love Journey
By Wida Reza Hardiyanti
Awalnya kehidupanku berjalan normal sebelum serentetan kejadian aneh itu menimpaku. Sejak saat itu,aku menjadi seorang gadis remaja yang “tidak biasa”. Bisa dibilang, aku menjadi salah seorang dari beberapa orang-orang terpilih yang dianugerahi bakat istimewa oleh Tuhan. Ok, emang sih, aku gak kayak anak indigo yang bisa melihat hantu atau orang yang bisa meramal masa depan orang lain. Aku “hanya” seorang petualang. Ya, aku bisa melakukan perjalanan keliling dunia dalam waktu sepersekian detik. Aku cuma perlu membayangkan tempat yang pingin aku tuju. Terus, tiba-tiba cling! aku sudah sampai di tempat yang aku inginkan. Ketika aku menutup mataku,perjalanan keliling dunia pun dimulai...
Semuanya dimulai saat aku pergi liburan bersama orangtuaku ke Bali. Awalnya orangtuaku yang merencanakan penelitian sejarah ke Bali. Mamaku, yang berprofesi sebagai dosen sejarah, ingin mengadakan observasi ke Trunyan. Dan Papaku ingin menemani Mama kesana. Papaku adalah seorang advonturir atau biasa disebut juga penjelajah. Papa sering pergi ke berbagai tempat untuk jelajah alam. Gak hanya sekedar advonturir, Papa juga seorang fotografer. Ia mengabadikan petualangannya dengan lensa kamera kesayangannya. Papa juga menjadi fotografer freelance untuk majalah National Geographic.
Aku sering bertanya-tanya kenapa Papa dan Mama bisa saling jatuh cinta. Padahal diantara mereka berdua terdapat banyak perbedaan. Mama dan Papa ibarat dua kutub yang saling berlawanan. Mama berpikir secara ilmiah, sedangkan Papa adalah orang yang nyentrik dan santai. Mama adalah orang yang menyukai kerapian dan kebersihan, sedangkan Papa sebaliknya. Mama gak suka musik, sedangkan ayah sangat suka musik. Papa bahkan bisa main gitar dan piano! Papa orangnya humoris, sedangkan Mama orangnya serius. Lihat kan, mereka punya banyak perbedaan. Tapi mereka punya satu kesamaan, yaitu mereka saling mencintai satu sama lain. Mungkin benar kata-kata bijak bahwa cinta itu sulit dipahami. Semakin keras usaha kita untuk memahami cinta, semakin rumit jadinya. Cinta memang rahasia-Nya. Lagipula tidak ada seorangpun yang tahu apa alasan mereka kenapa jatuh cinta pada pasangannya.
°°°°°°
Suatu hari aku pernah menanyakan alasan Mamaku melakukan observasi ke Trunyan. “Kenapa harus Trunyan sih ,Ma? Tempat itu kan katanya mistis, Ma. Apa Mama gak takut?”
“Kenapa harus takut? Mama kan peneliti,Mel. Mama lebih percaya sama hal-hal yang logis dan realistis daripada sekedar mitos yang bersifat mistis. Lagipula observasi ini sangat penting buat materi pengajaran Mama. Banyak mahasiswa Mama di kelas yang tanya sama Mama tentang Trunyan. Jadi Mama harus ngadain observasi langsung ke Trunyan. “
“Ok, deh. Terserah apa kata Mama.” kataku merajuk.
“Oh ya, Mel, Papa kayaknya bakal nemenin observasi Mama deh. Lebih baik kamu ikut Mama ke Bali daripada sendirian di rumah. ”kata Mama membujukku.
“Ya ampun, Ma. Masa Melina harus ikut Mama ke Bali sih? Aku gak mau ikut Mama pergi ke Trunyan. Lagian kan masih ada Bik Surti.” Kataku mencoba membantah perkataan Mama.
“Besok Bik Surti pulang kampung. Anaknya sakit keras. Mungkin dua minggu lagi baru pulang. Lagian kan sebentar lagi kamu libur sekolah. Apa salahnya kamu ikut kami ke Bali sekalian wisata?”
“Iya sih, Ma. Ntar deh, aku pikir-pikir lagi.”kataku sambil menuju ke kamar.
°°°°°°
Di kamar aku masih mempertimbangkan keputusanku. Pergi atau gak ya?kalau aku pergi ke Bali bareng Papa Mama, mungkin aku bisa sekalian wisata. Lagipula pas mereka ke Trunyan, aku kan bisa pergi ke pantai aja. Suara hatiku berkata padaku bahwa sebaiknya aku pergi. Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik. Lagipula aku gak mau tinggal sendirian di rumah. “Aku musti buru-buru bilang ke Mama nih.”gumamku pelan.
Kulangkahkan kaki menuju kamar Mama. Kuketuk pintu kamar perlahan. Tak lama Mama keluar dan membukakan pintu.
“Ma, aku mau ikut Mama ke Bali aja. Daripada di rumah sendiri.”kataku memulai pembicaraan.
“Bagus dong kalau gitu. Jadi kita bisa secepatnya berkemas. Besok Mama bantuin kamu berkemas.”
“Makasih,Ma.”
“Sama-sama,Dear.”
°°°°°°
Esok menjelang. Aku masih tidur ketika kudengar suara ketukan di pintu.
“Aku masih ngantuk banget. Siapa sih yang ngetuk pintu? Gak tau orang lagi enak-enak tidur apa? Lagian kan ini hari libur. Buat apa bangun pagi-pagi?” gumamku.
Aku hanya diam dan meneruskan tidurku. Bukannya berhenti mengetuk, tetapi suara ketukannya malah semakin keras. Akhirnya aku bangkit dari tempat tidur. Kubuka pintu kamar. Ternyata Mama yang mengetuk pintu.
“Ngapain pagi-pagi ngetuk pintu kamarku, Ma? Ini kan hari libur,”kataku sambil menguap lebar-lebar.
“Melina, jadi cewek yang sopan dong. Kalau menguap ya harus ditutup pake tangan. kamu lupa ya? Hari ini kita kan mau ke Bali. Ayo kita cepet-cepet berkemas. Kalau gak, kita bisa ketinggalan pesawat.”
“Ok, Ma.”sahutku singkat.
Usai berkemas, aku segera mandi dan sarapan pagi. Di meja makan, Papa Mama telah selesai sarapan. Ternyata Mama dan Papa sudah menungguku dari tadi. Aku bergegas melahap roti selai kacang dan meneguk segelas susu di atas meja.
°°°°°°
Kami menuju bandara Soekarno Hatta. Kulirik jam tangan mungil di tanganku.
Udah jam 09.00. Wah, gawat nih. Pesawat take off jam 09.15. Cuma ada waktu 15 menit. Moga-moga jalanan gak macet. Kalau gak, aku dan Mama Papa bakal ketinggalan pesawat,pikirku kalut.
Seolah tahu apa yang ada dalam pikiranku, Pak sopir mengemudikan mobil lebih cepat. Hingga 80 km/jam. Beruntung, Pak sopir bisa menghindari kecepatan dengan mengambil jalan alternatif. Tak lama kami telah tiba di bandara. Aku berterima kasih dan bergegas turun. Papa Mama mengikutiku dari belakang.
    Kami memasuki pintu masuk penerbangan. Melewati serangkaian pemeriksaan standar bandara dan segera naik ke pesawat. Aku mencari kursi yang sesuai dengan nomor pada tiket pesawatku. Tertera nomor 18 disana. Usai mencari-cari, akhirnya ku menemukannya. Kursi sebelahku diduduki oleh seorang eksekutif muda. Aku bisa melihat dari jas yang dipakainya. Sementara itu,Mama Papa duduk berdampingan. Mereka duduk di kursi nomor 19. Mereka persis berada di belakangku.
Pesawat take off 3 menit kemudian. Aku memejamkan mata, berusaha untuk tidur.
°°°°°°
Usai  menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, kami mendarat di bandara Ngurah Rai. Kami segera turun dari pesawat dan menunggu jemputan. Di tempat tunggu kedatangan, kulihat sosok Om Henry.
Om Henry adalah adik kandung ibuku. Ia seorang seniman. Salah seorang pelukis dan pematung terkenal di Bali. Karya-karyanya banyak diburu oleh para kolektor seni. Ia mendapat julukan “The masterpiece Henry”. Om Henry baru berusia 27 tahun dan masih lajang. Ia tinggal di kompleks perumahan terkenal, Ubud.
°°°°°°
“Melina!,” teriak om Henry lantang.
“Om Henry!,”sahutku. Aku segera menghampirinya dan kami berdua berpelukan.
“Wah, Mel. Kamu tambah cantik aja,”kata Om Henry memujiku.
“Iya, dong om. Melina gitu lho.”kataku sambil tersenyum.
Tak lama kemudian ibu dan ayah datang menghampiri kami. Mereka saling melepas rindu dan berbincang-bincang sebentar. Om Henry membimbing kami menuju tempat parkir mobil. Om Henry segera memasukkan barang-barang kami ke bagasi sedan BMW-nya. Mobil pun melaju kencang.
. °°°°°°

Kami tiba di rumah Om Henry 10 menit kemudian. Kulirik jam tanganku. Jam 11.10. Pantas, sinar matahari terik sekali. Aku segera mengambil koper di bagasi dan bergegas masuk ke dalam rumah.
“Mel, kamarmu di lantai dua ya. Yang kamar tamu di lantai satu biar dipake Mamamu.”Om Henry teriak padaku..
“Iya, deh, Om.”kataku dengan cemberut. Waduh, berarti aku harus menjinjing koper sampai lantai dua nih. Mana tangganya banyak banget lagi! Gimana ini?
Dengan berat hati aku menjinjing koperku ke lantai dua. Ternyata koperku berat juga. Padahal aku gak bawa banyak barang lho. Aku cuma bawa 5 pasang pakaian dan alat mandi. Belum sampai lima anak tangga,napasku tersengal-sengal, tanganku pegal, dan kakiku gemetaran. Namun Om Henry maupun Mama Papa cuek aja. Mereka tidak menyadari kalau aku butuh bantuan. Mereka malah lagi ngobrol di ruang tamu. Sungguh kejam!
Aku menyandarkan koperku dan memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil duduk-duduk di tangga. Untunglah Bik Inem menghampiriku dan menawarkan bantuan untuk membawa koperku ke atas. Tentu saja aku buru-buru mengiyakan. Aku mengekor di belakang Bik Inem dan memperhatikannya membawa koperku. Bik Inem dengan sigap mengangkatnya melewati 30 anak tangga lagi. Bik Inem tidak terlihat kelelahan maupun genetaran. Napasnya juga tidak tersengal-sengal sepertiku tadi. Padahal Bik Inem sudah berusia 45 tahun sementara aku masih 17 tahun! Sampai di anak tangga terakhir, aku mengucapkan terimakasih atas bantuannya. Bik Inem tersenyum simpul dan berkata bahwa itu memang sudah tugasnya. Ia bergegas turun ke bawah.
Kubuka pintu kamar kemudian membaringkan diri di kasur. Tanpa sadar, aku terlelap. Ternyata perjalanan jauh dari Jakarta-Bali emang bener-bener bikin capek..

°°°°°°
Aku gak tahu sudah berapa jam aku terlelap. Aku terbangun saat mendengar suara petasan dari luar. Sepertinya sih,suara petasan itu berasal dari halaman. Ternyata benar dugaanku. Memang ada yang menyulut petasan. Tak lama berselang,hidungku mencium bau harum daging sapi panggang kesukaanku. Rupanya Om Henry mengadakan pesta kembang api dan pesta BBQ. Wah, asyik juga nih!
Kusibakkan tirai jendela. Kupandangi langit di luar sana. Langit cerah di siang hari telah berganti menjadi hitam temaram. Sudah malam rupanya. Mungkin aku tidur lebih dari 8 jam!
Aku sebenarnya ingin bergegas turun. Tapi saat melintas di depan cermin besar dan melihat pantulan wajahku, aku kaget setengah mati. Penampilanku sungguh mengerikan. Rambut acak-acakkan, mata merah, plus wajah kusut.
Duh, penampilanku bener-bener acak-acakan. Aku kayak zombie habis bangun dari kuburan nih.”gumamku pada diri sendiri.
Aku memutuskan untuk “berbenah diri” terlebih dulu. Saat mau masuk kamar mandi, aku baru sadar kalau aku belum beresin koper. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk beresin besok pagi. Besok aja deh. Aku gak mau ketinggalan pesta BBQ. Aku cuma mengambil baju ganti dan sabun pencuci muka dari dalam koperku. Setelah cuci muka dan ganti baju, aku segera turun ke bawah. Tak lupa kukunci pintu kamarku.
°°°°°°
Pesta kembang api dan BBQ itu diadakan di halaman belakang Rumah Om Henry. Rumah Om Henry cukup luas. Kurang lebih sekitar 800 m². Halaman rumah Om Henry tertata dengan indah. Ada taman bunga, gazebo, dan kolam renangnya.
Om Henry memang menyewa tukang kebun untuk menata halaman belakang rumahnya. Katanya sih, ia butuh pemandangan indah dan suasana tenang untuk melukis. Om Henry sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk melukis. Biasanya ia duduk di gazebo, mengambil kanvas, dan  mulai melukis. Ketika ia mulai lelah, ia akan keliling taman dan memandang bunga beraneka warna. Ada bunga forget-me not,lili,krisan, cepaka, melati, seruni, anggrek, krisan, dan mawar.
Aku sempat tertegun menyaksikan pemandangan di halaman belakang yang ditumbuhi pohon cemara dihiasi dengan lampu warna-warni seperti pohon natal. Aku juga menghirup aroma sedap dan harum panggangan. Di langit, bintang berkerlap-kerlip seperti mengedip padaku. Tak hanya itu, kembang api berwarna-warni menambah keindahan langit di atas sana. Kupandangi sekeliling taman. Ibu sedang sibuk memanggang daging, ayah sedang main gitar, dan Om Henry menyulut petasan.
“Mel, sini bantuin ibu manggang daging.”
“Ya”jawabku lirih.
Setelah memanggang daging, aku menghampiri Om Henry .
“Om, Melina boleh nyalain petasannya gak?”
“Boleh aja. Sini aku ajarin caranya.”
Usai pesta kembang api, kemudian saatnya menikmati BBQ sambil mendengarkan lagu dan petikan gitar ayah. Kami bertiga, aku, ibu, dan Om Henry nyanyi, sedangkan ayah main gitar mengiringi lagu yang kami nyanyikan.
“Yah, boleh nge-request lagu gak?”
“Boleh. Mau lagu apa?”
“Lagu Firework yang dinyanyiin sama Katty Pery. Ayah tau kan?”
“Tau dong. Itu kan lagu favoritmu. Kamu sering nyanyiin lagu itu di rumah.”
Malam udah semakin larut. Dingin menyergap, menggiggit tulang. Mata sudah hampir terpejam dan kantuk menyergap.
“Bu, aku udah ngantuk. Aku tidur dulu ya.”
“Ya”
°°°°°°
Aku masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa-gesa. Aku menaiki anak tangga dua-dua sekaligus. Tak lama aku dah sampai di depan pintu kamar. Kubuka pintu kamar, kemudian masuk ke dalam. Sesaat tatapanku tertuju pada seekor binatang hitam diatas tempat tidur. Setelah aku amati cukup lama, aku baru sadar kalau itu hanya seekor kucing hitam. Namun anehnya, bagaimana kucing itu bisa masuk sampai kesini? Bukannya jendela dan pintunya kukunci?
Kuamati kucing itu dengan seksama. Seakan sadar kalau sedang diamati olehku, mata kucing itu  menatapku tajam. Kemudian, untuk sesaat, aku melihat kucing itu menyeringai padaku. Ketika menyeringai, aku melihat kedua taring atasnya berlumuran darah. Aku terpaku sesaat. Aku mengucek-ucek mata untuk memastikan penglihatanku. Mungkin aku salah melihat. Atau mungkin aku sekedar berhalusinasi. Sebenarnya aku mau mengusir kucing itu, tapi karena aku sudah ngantuk berat, aku malas melakukannya. Akhirnya aku membiarkan saja kucing itu. Aku merebahkan diri diatas tempat tidur. Anehnya kucing itu tak bergerak sama sekali. Seperti patung.
“Ah, biarin aja. Mungkin aku kecapekan jadinya pikiranku gak karuan,”kataku bergumam pada diri sendiri.
Aku sempat mengamati kucing itu sesaat, sebelum akhitnya jatuh tertidur. Saat itu aku tak sadar bahwa mungkin itu suatu pertanda. Pertanda  bahwa mungkin akan terjadi kejadian aneh yang akan menimpaku selanjutnya.
°°°°°°

Sinar matahari menerobos masuk lewat jendela. Tirai jendela telah disibakkan dan jendelanya telah dibuka lebar-lebar. Aku mengerjap-ngerjapkan mata karena cahaya matahari yang menyilaukan membuat mataku sakit. Aku melihat sekeliling. Ternyata kucing itu sudah gak ada.
Aku segera masuk ke kamar mandi. Membersihkan badan. Setelah mandi, badanku segar kembali. Aku melirik jam di atas meja untuk memastikan jam berapa saat ini. Ternyata jam 07.30. Aku merasa perutku keroncongan. Aku segera turun ke bawah. Menghampiri ruang makan.
Di ruang makan telah terhidang roti selai kacang dan segelas susu hangat. Duduk berjajar mengelilingi meja makan, ayah, ibu, dan Om Henry. Aku segera duduk dan mengucapkan selamat pagi.
“Gimana tidurnya,nyenyak Mel?”tanya Om Hnery.
“Nyenyak Om”jawabku singkat.
“Oh ya,Om. Melina mau tanya.”kataku sambil mengambil roti selai kacang diatas meja.
“Tanya apa Mel?”
“Om pelihara kucing hitam gak?”kataku sambil mengunyah makananku.
“Gak lah, Mel. Buat apa pelihara kucing segala. Emangnya kenapa Mel?”tanya Om Henry penasaran.
“Hm,gak apa-apa kok Om.”kataku bebohong.
“Ayolah, Mel. Kamu gak usah bohong. Kamu gak pinter bohong. Ada apa sebenarnya Mel?”
“Semalem aku ngliat kucing hitam di kamarku,Om. Kucing itu aneh banget. Kucing itu  keliatan serem dan misterius.”
“Oh ya? Mungkin itu cuma halusinasimu,Mel. Karena kamu kecapekan,makanya kamu jadi berpikiran yang aneh-aneh.”Om Henry berusaha menenangkanku.
“Iya, kali Om. Awalnya Melina juga berpikir begitu. Tapi, om..”
“Tapi kenapa,Mel?”tanya Om Henry lagi.
“Tapi, setelah aku amati, kucing itu kelihatan nyata. Kalo cuma halusinasi, berarti kucing itu  bayangan dong,Om. Kucing itu harusnya ilang setelah aku memastikan penglihatanku. Tapi, setelah aku memastikan penglihatanku, kucing itu masih ada. Kucing itu bener-bener ada disana.”jawabku panjang lebar.
“Ya udahlah. Toh, kucing itu udah gak ada kan? Gak bakal ada apa-apa kok”jawab Om Henry santai.
Aku segera menghabiskan makananku dan meneguk segelas susu. Aku membereskan pring dan membawanya ke bak cucian piring. Dalam hati,aku masih penasaran atas kejadian semalam. Aku juga memikirkan jawaban Om Henry. aku merenung dan mencoba menghubungkan kronologi kejadian semalam. Tapi karena tak kunjung mendapat jawabannya, akhirnya aku terpaksa sependapat dengan Om Henry.
Tapi, aku baru menyadari setelahnya,setelah berbagai kejadian aneh menimpaku. Bahwa pendapat Om Henry salah...
°°°°°°
Jam 08.00, Om Henry mengajak kami bertiga ke pantai. Tentu saja aku langsung senang.
Aku segera berkemas. Menyiapkan perlengkapan dan peralatan ke pantai. Sun block dengan SPF 15, baju renang, topi pantai,dll. Setelah siap, aku memasukkan barang-barang ke bagasi mobil. Mobil melaju. Tak sampai sejam, kami tiba di pantai Kuta.
Awalnya aku mengira pantai masih lengang dan sepi. Tetapi dugaanku salah besar. Ternyata pantai telah dipenuhi wisatawan. Aku tak mau membuang-buang waktu. Aku bergegas mengambil barang-barangku di bagasi dan menjinjingnya. Aku masuk ke toilet wanita yang tersedia. Setelah berganti dengan pakaian renang one piece warna krem yang sangat cocok dengan warna kulitku, aku berbaring telungkup di kursi pantai.
Mama berbaring telungkup di sampingku. Mama membalurkan sunblock ke kaki dan tanganku. Setelah itu,gantian aku yang membantu Mama membalurkan sunblock ke punggungnya. Ternyata ayah dan Om Henry telah memakai celana renang. Karena ombaknya sedang bagus, mereka berdua berselancar.
Setengah jam berbaring, aku merasa bosan. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan. Pasir pantai seperti menggelitiku kakiku yang telanjang. Aku memang sengaja tidak memakai alas kaki. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku.
“Melina!”seseorang memanggil namaku.                             
Aku mencari-cari asal suara tersebut. Ternyata seorang cowok yang sebaya denganku. Ia berwajah tampan. Rambutnya pirang dan hidungnya mancung. Tubuhnya tinggi dan atletis. Kelihatannya ia orang indo. Karena iris matanya berwarna hitam, bukan biru atau coklat.
“Who are you? Should I know you?”tanyaku bingung.
“My name is Peter Müeller. No, maybe you don’t know me.”
 “So, how could you know my name,Peter?”
“I always dream of you.”
“Wow,you must be kidding. ”
“No,I’m not.”
“Ok,I don’t care about it. Well, Peter, where are you come from?”
“I come from Germany.”
“Guten morgen,Peter.”kataku padanya.
“Guten morgen,Melinda.”sahutnya.
“Wie geht es Ihnen?”tanyaku.
“Es geht mir gut. Und Ihnen?”jawabnya.
“Ich bin prima,”jawabku singkat.
“Wow,du sprichst Deutsch.”katanya dengan takjub.
“Ja. Ich lerne Deutsch in meine Schule.”jawabku singkat.
“Hast du phonenummer?”tanyanya.
“Ja. Naturlich.”jawabku.
“Geben Sie,bitte!”pintanya.
“Ja. Null-acht-fünf-drei-sieben-neun-vier-eins-drei-zwei-fünf-sech.”
“Danke schön,Melina.”katanya sambil tersenyum. Saat tersenyum, kulihat kedua lesung pipi menghiasi ujung bibirnya. Senyumnya sungguh menawan. Entah kenapa hatiku berdebar-debar. Mungkin ini yang dinamakan love at the first sight.
Kemudian,lamat-lamat terdengar suara Mama memanggil namaku.
“Ja. Entschuldigen Sie, bitte. Ich muss jetzt gehen. Auf wiedersehen.”kataku mengucap salam perpisahan.
“Auf wiedersehen.”katanya singkat.
“I’ll texted you. I hope I’ll meet you again someday.”ujarnya lagi.
“Yeah. Mee too. ”kataku sambil melangkah menjauh. Ia melambaikan tangan padaku. Aku hanya tersenyum simpul.
°°°°°°
 Aku bergegas menghampiri Mamaku.
“Mel,kamu buruan ganti. Kita harus bergegas. Ibu tunggu kamu di mobil.”
Aku segera ganti baju di toilet. Aku menuju ke parkiran dan segera masuk ke mobil. Mobil pun melaju.
“Om, kita mau kemana sih?”
“Ke tempat I Made.”jawab Om Henry singkat.
“Siapa itu I Made?”
“Ia salah seorang dukun spiritual terkenal di Trunyan.”
Tak lama kami sampai di Trunyan. Sampai di pintu gapura masuk Trunyan, Om memarkirkan mobil.
“Ok,ketika kita masuk ke daerah Trunyan,kita dilarang membawa benda-benda elektronik maupun mengambil barang-barang dari Trunyan untuk dibawa pulang. Kalau ada yang melanggar,kita semua akan kena akibatnya.”kata Om Henry memberi peringatan.
°°°°°°
Kami turun dari mobil dan berjalan kaki. Kata Om Henry,jarak dari pintu masuk menuju desa trunyan tidak terlalu jauh. Saat memasuki daerah itu, aku merasakan atmosfir supranatural yang kental. Sesaat bulu kudukku merinding dan kakiku urung untuk melangkah. Namun, aku menguatkan diri.
“Ini gak bakalan lama. Toh,nanti juga gak bakal terjadi apa-apa.”gumamku pelan.
Setelah 5 menit berjalan, akhirnya kita sampai di rumah I Made. Om Henry mengetuk pintu dan tak lama keluarlah sesosok lelaki paruh baya dari dalam rumah. Ia sangat jauh dari kesan angker. Justru ia sangat ramah. Kami memperkenalkan diri satu persatu. Saat tiba giliranku memperkenalkan diri, ia menyahut lebih dulu.
“Namamu Melina kan? Aku sudah tahu. Melina, kamu memiliki bakat istimewa  yang belum kamu sadari.”
Tanpa sempat bertanya, ia telah berjalan mendahului dan membimbing kami memasuki kawasan desa Trunyan. Ternyata Trunyan adalah suatu kompleks pemakaman yang unik. Bila orang mati di Bali umumnya dibakar jenazahnya dan dijadikan abu, maka di Trunyan beda lagi. Orang Trunyan yang meninggal tidak melaksanakan upacara Ngaben, tetapi jenzahnya diletakkan begitu saja. Hampir seperti pemakaman di Tanah Toraja. Ibuku kemudian mengajukan beberapa pertanyaan dn mencatatnya sebagai bahan penelitian sejarah. 
Aku melihat mayat-mayat yang diletakkan begitu saja di dekat pohon. Namun anehnya aku tidak mencium bau busuk. Seolah-olah bisa membaca pikiranku, I Made menjawab, “Hal itu disebabkan karena pohon ini mampu menyerap bau busuk. Banyak peneliti yang datang kemari untuk meneliti zat dalam pohon ini. Namun peraturan adat kami melarang orang asing membawa sampel pohon ini keluar dari daerah Trunyan, mereka tak bisa menelitinya. Sehingga misteri mengenai pohon ini belum terpecahkan.”
Aku mengamati pohon itu. Tinggi besar dan rimbun seperti pohon beringin.
“Mel, penelitian kita udah selesai. Yuk, kita pulang.”kata ibu membuyarkan lamunanku.
“Ok,bu.”
Tiba-tiba I Made menghampiriku.
“Melina, coba pejamkan matamu dan bayangkan tempat yang ingin kau kunjungi. Suatu keajaiban akan terjadi. Namun,keajaiban itu akan terjadi setelah kamu bertemu lagi dengannya. Kau dan dia memiliki bakat yang sama. Kemampuan kalian akan mempertemukan kalian kembali. Kalian berdua adalah sang terpilh.”kata I Made sambil tersenyum.
Aku mencoba bertanya apa maksudnya, tapi ia hanya diam saja.
°°°°°°
Dalam perjalanan pulang, aku masih memikirkan perkataan I Made. Kenapa ya, aku baru 3 hari Bali, tapi banyak kejadian aneh yang terjadi?
Sesampai di rumah Om Henry, aku bergegas masuk kamar. Aku mencoba membuktikan perkataan I Made. Aku memejamkan mata dan membayangkan tempat yang sangat ingin kukunjungi, taman bunga. Aku memabayangkan bunga berwarna-warni, ratusan jenis, dengan harumnya yang semerbak dan dipennuhi kupu-kupu yang beterbangan kesana-kemari. Namun anehnya, tak terjadi apa-apa. Aku sedikit kecewa. Mungkin I Made salah mengira. Tapi, apa maksudnya bahwa kemampuanku akan muncul ketika aku bertemu lagi dengan dia? Siapakah dia itu?
°°°°°°

Esoknya,aku memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar kompleks Ubud. Aku ingin menenangkan diri. Banyak kejadian aneh yang menimpaku belakangan ini. Aku berjalan sambil melamun. Tanpa sadar, aku telah sampai di taman bunga Ubud.
Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di kursi taman. Aku melihat sesosok laki-laki menghampiriku. Ia berjalan dari kejauhan dan berjalan ke arahku. Aku memicingkan mata mencoba untuk memperjelas penglihatanku. Setelah dekat, sosok itu menjadi jelas.
“Hello,Peter.”kataku kaget.
“Hi,Melina.”jawabnya.
Dalam hati aku bertanya-tanya, bagaimana ia sampai disini.
“I’ve told you,right? We’ll meet again.”katanya.
“Yeah. It’s true.”jawabku gugup.
“I love you,Melina.”katanya tiba-tiba.
Aku memandang kedua bola matanya. Aku melihat ketulusan dan rasa cinta yang dalam disana.
“But, we just meet two times. Love always need time.”jawabku
“yes. But, I also same with you. I can see my future with you. I love you. And I know that you love me too.”jawabnya.
“So...you already know my feeling. ”kataku tercekat.
“Yes. Just close your eyes and think someplace. Everyplace that you want to visit.”sahutnya.
Aku menutup mataku. Aku membayangkan tempat yang aku bayangkan sebelumnya. Ketika aku membuka mata, aku benar-benar ada disana. Bersama Peter disampingku. 
“Let’s start our journey.”kata Peter.
“Our love journey around the world.”kataku.
“I love you too,Peter.”kataku.
Peter hanya tersenyum. Ini adalah awal perjalanan cinta kita.
END





  








separador

0 komentar :

Post a Comment

Starry Sun

Jam

Followers